Minggu, 22 Januari 2017

SOP – RESUSITASI JANTUNG PARU

SOP – RESUSITASI JANTUNG PARU

 Image result for RJP


PENGERTIAN.
  1. Resusitasi jantung paru suatu sistem/metode untuk mengatasi henti jantung dan/atau henti nafas.
  2. Henti jantung adalah berhentinya kontraksi jantung yang ditandai tak terabanya denyut jantung, denyut nadi dan/atau denyut arteri karotis.
  3. Henti nafas adalah berhentinya gerakan pernafasan dan ditandai dengan tak terasanya hembusan nafas dari kedua lubang hidung.
TUJUAN : Agar nyawa penderita henti jantung dan/atau henti paru segera bisa diselamatkan dan tidak memberikan gejala sisa.
KEBIJAKAN :
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
PROSEDUR.
  1. Periksa respon:
    • a) Petugas IGD RS NAMARS segera memeriksa ada tidaknya cedera dan tentukan ada respon atau tidak.
    • b) Tepuk atau guncangkan secara halus, panggil atau tanya.
    • c) Bila diduga ada trauma kepala atau leher, pasien tak boleh digerakkan kecuali bila benar-benar diperlukan.
  2. Aktifkan sistem pelayanan emergensi yang ada:
    • Bila terjadi di luar RS :
      a. panggil bantuan,
      b. sebutkan jenis bantuan yang diperlukan,
      c. lokasi korban,
      d. nomor telpon yang digunakan,
      e. apa yang terjadi,
      f. jumlah orang yang memerlukan pertolongan,
      g.kondisi korban, dan informasi lainnya.
  3. AIRWAY (Jalan nafas):
    Bila korban tak memberikan respon:
    • a) petugas IGD RS NAMARS harus menentukan apakah korban tersebut bernafas secara adekuat.
    • b) Letakkan korban pada posisi terlentang dan jalan nafas terbuka.
    • c) Posisi korban :
      • i) Tempatkan korban pada posisi terlentang, pada tempat yang keras dan datar.
      • ii) Bila korban telungkup, balikkan korban dalam satu kesatuan sehingga kepala, bahu dan badan bergerak serentak hingga tak ada yang terputar. Kepala dan leher harus berada pada satu bidang, lengan berada di samping badan.
    • d) Posisi petugas/penolong:
      Penolong harus berada pada sisi korban sehingga memungkinkan melakukan bantuan nafas dan kompresi dada.
    • e) Buka jalan nafas:
      • i) Bila korban tak berrespon/tak sadar lakukan manuver ”head tilt-chin lift” untuk membuka jalan nafas, dengan syarat pasien tak ada bukti trauma kepala atau leher.
      • ii) Bila dicurigai adanya trauma leher lakukan manuver ”jaw- thrust”.
      • iii) Bila ada benda asing yang terlihat atau muntahan, segera keluarkan dari dalam mulut dengan jari tangan yang memakai sarung tangan. Benda yang keras dapat dikeluarkan dengan jari telunjuk, sementara tangan yang lain tetap mempertahankan lidah dan rahang.
  4. Manuver ”head tilt-chin lift”:
    • a) Letakkan satu tangan pada dahi korban, tekan dengan telapak tangan hingga kepala menjungkit ke belakang. Letakkan jari-jari tangan yang sebelah lagi di bawah tulang rahang bawah dekat dagu. Angkat rahang dan dagu ke depan.
    • b) Jangan menekan bagian lunak di bawah dagu dan jangan menggunakan ibu jari untuk mengangkat dagu. Buka mulut sehingga memungkinkan pernafasan spontan dan memungkinkan bantuan nafas dari mulut ke mulut. Bila gigi korban goyah atau ada gigi palsu, maka gigi tsb harus lepaskan.
  5. Manuver ”jaw-thrust”:
    Letakkan tangan penolong pada masing-masing sisi kepala korban, letakkan siku penolong pada bidang dimana korban berbaring. Raih sudut rahang bawah korban dan angkat dengan ke dua tangan. Bila bibir korban terkatup, regangkan atau buka dengan ibu jari ke dua tangan.
  6. BREATHING (Pernafasan):
    • a) Periksa ada tidaknya nafas:
      • i) Tempatkan telinga penolong dekat mulut dan hidung korban sambil tetap membuka jalan nafas. Sambil memperhatikan dada korban lakukan:
        (1) Look: lihat ada tidaknya pergerakan dada;
        (2) Listen: dengar ada tidaknya hembusan nafas;
        (3) Feel: rasakan adanya hembusan
      • ii) Prosedur pemeriksaan ini tak boleh lebih dari 10 detik.
    • b) Tentukan ada/tidaknya dan adekuat/tidaknya pernafasan.
      • i) Bila korban tak berespon/tak sadar dengan nafas normal, tak ada cedera tulang belakang, posisikan penderita pada posisi mantap, jaga jalan nafas terbuka.
      • ii) Bila korban tak berespon dan tak bernafas, lakukan bantuan nafas 2 kali. Bila tak dapat dilakukan pemberian bantuan nafas awal, atur ulang posisi kepala dan ulang lagi usaha ventilasi.
      • iii) Bila tetap tak berhasil memberikan ventilasi hingga dada mengembang, tenaga terlatih harus melakukan manuver untuk mengatasi sumbatan jalan karena benda asing (Heimlich manuver atau abdominal thrust/back thrust).
      • iv) Pastikan dada korban turun naik pada tiap bantuan nafas yang diberikan.
      • v) Periksa ada tidaknya tanda-tanda sirkulasi.
  7. CIRCULATION (Sirkulasi)
    • a) Periksa ada tidaknya tanda-tanda sirkulasi;
      • i) Setelah pemberian bantuan nafas awal, periksa adanya pernafasan normal, k atau gerakan dari korban sebagai respon terhadap bantuan nafas yang diberikan. Sekaligus periksa ada tidaknya nadi karotis jangan lebih dari 10 detik.
      • ii) Periksa denyut nadi arteri karotis adalah dengan mempertahankan posisi kepala (head tilt) dengan satu tangan. Raba trakhea dengan 2 atau 3 jari tangan yang lain, geser jari-jari tersebut ke lateral sisi penolong hingga celah antara trakhea dan otot.
      • iii) Gunakan tekanan yang lembut saja sehingga tidak menekan arterinya. Bila denyut arteri karotis tak teraba lakukan kompresi dada.
    • b) Kompresi dada:
      • i) Jari penolong mencari arkus kosta bagian bawah.
      • ii) Ditelusuri ke atas hingga teraba bagian terbawah sternum.
      • iii) Taruh salah satu pangkal tangan pada bagian separuh bawah sternum, dan taruh tangan yang satu lagi di atas punggungn tangan yang pertama, sehingga tangan dalam keadaan paralel. Pastikan sumbu pangkal tangan tepat pada sumbu sternum.
      • iv) Jari-jari tangan dapat dibiarkan terbuka atau saling mengunci satu sama lain tetapi jangan menekan dada.
      • v) Usahakan mendapatkan posisi yang tepat di sternum dengan cara meletakkan pangkal tangan penolong diantara ke dua papilla mammae.
      • vi) Lakukan kompresi yang efektif dengan memperhatikan hal- hal sebagai berikut:
        • (1) Posisi siku tidak menekuk, posisi lengan tegak lurus dengan dada korban.
        • (2) Tekan di tengah sternum.
        • (3) Lepaskan tekanan hingga dada kembali ke posisi normal agar darah masuk ke dada dan jantung, posisi tangan tetap menempel di sternum.
        • (4) Lakukan 30 kali kompresi dada, pastikan dada kembali ke posisi semula diantara dua kompresi. Buka lagi jalan nafas dan berikan lagi 2 kali bantuan nafas, masing- masing 1 detik. Bila sudah dilakukan intubasi kompresi dada dan ventilasi dapat dilakukan kontinyu dan tidak perlu sinkron.
  8. REASSESSMENT:
    • a) Evaluasi ulang korban, bila tetap tak ada tanda-tanda sirkulasi ulangi RJP dengan dimulai dari kompresi dada. Bila tanda-tada sirkulasi sudah tampak, periksa pernafasan.
    • b) Bila ada nafas, tempatkan dalam posisi mantap dan awasi nafas dan sirkulasi.
    • c) Bila tak ada nafas tapi ada tanda-tnda sirkulasi, berikan bantuan nafas 10-12 kali/menit dan awasi adanya tanda-tanda sirkulasi tiap menit.
    • d) Bila tak ada tanda sirkulasi teruskan kompresi dada dan ventilasi dengan rasio 30 kompresi 2 ventilasi.
    • e) Berhenti dan periksa tanda-tanda sirkulasi dan adanya pernafasan spontan tiap menit.
    • i) Jangan berhenti RJP kecuali karena keadaan khusus.
    • j) Bila didapatkan adanya pernafasan yang adekuat dan adanya tanda-tanda sirkulasi, pertahankan jalan nafas tetap terbuka dan posisikan dalam posisi mantap; dengan cara:
      • i) Satu lutut difleksikan.
      • ii) Satu lengan yang sepihak diletakkan dibawah pantat, lengan yang lain difleksikan didepan dada.
      • iii) Pelan pelan diguligkan kearah yang sepihak dengan lutut yang fleksi.
      • iv) Kepala di ekstensikan, lengan yang fleksi didepan dada diletakkan mengganjal rahang bewah (agar tidak terguling ke depan )

SEPUTAR BEDHEAD

Mengenal lebih jauh apa itu Bedhead

Image result for BEDHEAD RUMAH SAKIT


Bedhead adalah panel service yang terbuat dari aluminium ekstrusi menyediakan berbagai keperluan perawatan pasien dalam rumah sakit mulai dari pasokan outlet gas medis, alat kelistrikan, termasuk nurse call system dan lainnya.

Bedhead dapat dipasang secara horizontal per unit maupun sepanjang dinding (wall to wall) dan dapat juga dipasang secara vertical yang dapat menyesuaikan dengan kondisi dinding perawatan. 



Image result for BEDHEAD RUMAH SAKIT

NURSE CALL SYSTEM

Seputar Fungsi dari Nurse call System

 Image result for GAMBAR  NURSE CALL SYSTEM

Nurse Call System adalah alat yang berfungsi untuk memanggil Suster , alat ini sebagai komunikasi khusus antar pasien dan perawat dalam area rumah sakit , fungsi tujuan dari alat ini untuk mendukung dan mengoptimugas para perawat dalam melayani pasien yang sedang dirawat dalam ruang 
rawat inap. 

Sistem Nurse call ini di design berdasarkan tujuan komunikasi atau skala prioritas yang dapat diketahui melalui warna lampu yang menyala serta jenis nada panggilnya. Dengan Begitu Perawat dapat mengabil keputusan mana yang harus di dahului berdasarakan prioritas pasien yang memanggil yang masuk ke meja nurse station atau meja counter perawat.

Digital Corridor Display dalam nurse call system berguna dalam memberi informasi warna prioritas dan nomor alamat kamar pasien.  
Ada macam Tipe Call Station 
Warna Hijau berfungsi untuk Pagilan normal dari pasien ini prioritas ke empat.
Warna Kuning berfungsi untuk suster meminta bantuan ini prioritas ke tiga
Warna Merah berfungsi untuk panggilan yang harus di jawab dengan cepat
Warna Biru berfungsi untuk panggilan darurat yang harus menjadi prioritas tertinggi.

CODE BLUE,CODE RED, CODE BLANK, CODE PING...WHAT IS THAT ?

Kode atau sandi adalah suatu informasi yang tidak berupa kata melainkan bentuk representasi lain. Di era global saat ini ada alat pemberi kode yang dapat berfungsi meminta bantuan , mengevakuasi, dll. Alat ini terdiri beberapa jenis  yaitu Code Blue , Code Red , Code Black, dan Code Brown Button, setiap Code memiliki maksud dan simbol  tertentu. Baik untuk lebih jelasnya kami akan jelaskan.

CODE BLUE
Image result for GAMBAR CODE BLUE
Code Blue (Kode Biru) merupakan kode yang dimana menunjukkan  pasien yang membutuhkan resusitasi atau membutuhkan pertolongan medis,paling sering sebagai akibat dari serangan pernapasan atau serangan jantung, jika tombol Code Blue di tekan maka muncul lampu berwarna biru, dan layar display akan menunjukan tulisan berwarna biru dan menunjukkan nomor kamar pasien. Di saat itu juga dokter atau suster terdekat akan melakukan pertolongan pertama ke pada pasien.


CODE RED

Selain Code Blue ada juga Code Red (Kode Merah) yang  merupakan kode yang dimana menunjukkan adanya kebakaran , di saat code red di tekan  maka akan menunjukan adanya kebakaran ,dan segera mungkin melakukan evakuasi dan pemadaman api, sehingga tidak melebar luas kobaran api tersebut.



Code Black 

Code Black (Kode Hitam) berguna terhadap adanya Ancaman Bom yang terjadi di di suatu tempat. misalnya kita mendapatkan laporan bahwa lokasi ini bakal di bom , maka code black harus di tekan , bertujuan untuk melakukan evakuasi, dan tidak memakan korban.

Code Brown Button
Selain ke 3 di atas ada juga Code Brown Button yang berfungsi untuk meminta
Bantuan Security, Kode di gunakan jika di lokasi adanya terjadi keributan, atau tamu tidak di undang.


Code Pink 

Dan Terakhir Code Pink (Kode Pink), kode ini biasanya sangat berguna di Rumah Sakit, atau ruang penitipan Bayi, jika ada nya Bayi Hilang maka Code Pink harus di tekan , bertujuan untuk ada nya tim untuk mencari  bayi yang hilang tersebut.

BTCLS

BTCLS BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) 

 Image result for GAMBAR BCTLS

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD)
● Tujuan BHD
mempertahankan pernafasan dan sirkulasi yg adekuat sampai kondisi yg menyebabkan henti nafas dan henti jantung dapat diatasi.

● Definisi Henti Nafas dan Henti Jantung
Henti nafas adalah apabila pernafasan berhenti (apnea). Sedangkan henti jantung adalah apabila jantung berhenti berkontraksi dan memompa darah. Kedua keadaan ini saling kait-mengkait.

● Sebab-Sebab Henti Nafas dan Henti Jantung
Henti nafas dapat disebabkan oleh gangguan atau penyakit pada jalan nafas atau pernafasan (primer) dan henti jantung diakibatkan gangguan atau penyakit kardiovaskular (primer). Meskipun demikian banyak penyakit-penyakit yg secara sekunder akan membahayakan pernafasan dan jantung yg pada akhirnya mengakibatkan henti nafas dan henti jantung.
Sistem kardiovaskuler dan pernafasan selalu berinteraksi.

● Sebab-sebab henti nafas
a.  Sumbatan jalan nafas
Sumbatan jalan nafas dapat terjadi total atau sebagian. Sumbatan jalan nafas total dengan cepat dapat menyebabkan edema otak atau edema paru, kelelahan bernafas, apnea sekunder dan kerusakan otak karena hipoksia seperti pada henti jantung.
Sebab-sebab sumbatan jalan adalah:
1. Darah
2. Muntahan
3. Benda asing
4. Trauma langsung pada wajah atau tenggorokan
5. Spasme larings, bronkus
6. Radang
7. Depresi susunan syaraf pusat oleh karena trauma kepala, tumor, gangguan metabolik dan obat-obatan misalnya narkotika.

b. Gangguan atau pemyakit paru
Kelainan patologis paru yg berat akan memperburuk oksigenasi dan ventilasi, yaitu:
1. Infeksi
2. Aspirasi
3. Asthma bronkhial
4. Edema paru
5. Kontusio paru
6. Pneumotoraks, hematoraks

c. Gangguan neuromuskular
Otot-otot pernafasan utama adalah diafragma dan otot-otot interkostal. Otot-otot interkostal dapat lumpuh bila terjadi kerusakan pada vertebra servikalis. Mislanya pada:
1. Myasthenia gravis
2. Sindrom guillain-barre
3. Multiple sclerosis
4. Poliomyelitis
5. Kyphoscoliosis
6. Distrofi muskuler
7. Penyakit motor neuron

●Sebab-sebab henti jantung
Sebab henti jantung dapat primer atau sekunder.
henti jantung primer adalah apabila penyebab yang langsung terjadi dari jantung, yaitu:
1. Gagal jantung
2. Temponade jantung
3. Miokarditis
4. Kardiomiopatik hipertrofik
5. Fibrilasi ventrikel akibat : iskemia miokardium, infark miokardium, sengatan listrik, obat-obatan, gangguan listrik.

henti jantung sekunder terjadi akibat gangguan yang berasal dari luar jantung, misalnya:
1. Asfiksia karena sumbatan jalan nafas
2. Anoksia karena tercekik, edema paru
3. Kehilangan darah banyak yang akut
4. Hipoksemia karena anemia
5 syok septik stadium hari

●Indikasi BHD
1. Henti jantung
2. Henti nafas

● Tahapan-tahapan BHD
tindakan BHD dilakukan secara berurutan dimulai dengan penilaian dan dilanjutkan dengan tindakan.
urutan tahapan BHD adalah menilai, mengaktifkan LGD/EMS (Emergency medical System), melakukan tindakan ABCD.

●Menilai kesadaran
Memeriksa pasien dan lihat responnya dengan menggoyang bahu pasien dengan lembut dan bertanya cukup keras "apakah kami baik-baik saja?" Atau "siapa namamu"
1. Bila pasien menjawab atau bergerak, biarkan pasien tetap lasa posisi ditemukan, kecuali bila ada bahaya pada posisi tersebut dan dipanta5 secara terus-menerus.
2. Bila pasien tidak memberikan respon, aktifkan EMS/LGD. Berteriaklah mencari bantuan, sembari buka jalan nafas.

Gbr. Menilai Kesadaran
Mengaktifkan Unit Gawat Darurat / UGD (Emergency Medical System = EMS) 
Meminta bantuan atau dengan berteriak atau menelepon UGD/EMS misalnya 118.
Pada waktu meminta bantuan sebutkan lokasi kejadian, jenis kejadian (misalnya serangan jantung, trauma, dll) beberapa pasien yang perlu bantuan, kondisi pasien, bantuan apa yang sudah diberikan, dll)
AIRWAY
apabila pasien tidak memberikan respon, pastikan apakah pasien bernafas dengan sempurna. Untuk menilai pernafasan, pasien harus pada posisi terlentang dengan jalan nafas terbuka.
○Posisi pasien
Posisi pasien terbaik untuk dinilai pernafasan dan diberi bantuan resusitasi adalah pasien posisi terlentang pada dasar yang keras dan datar. Apabila pada saat ditemukan pasien pada posisi telungkup, maka harus ditelentangkan secara simultan antara kepala, bahu dan dada tanpa memutar badan (teknik roll-on)
○Posisi penolong
Posisi penolong disamping pasien, posisi siap untuk melakukan pemberian nafas buatan dan kompresi dada.
○buka jalan nafas
Pada pasien yang tidak sadar, maka tonus otot-otot rahang lemah sehingga lidah dan epiglotis dapat menyumbat farings atau jalan nafas atas.
Penolong dapat membuka jalan nafas dengan cara angkat kepala, angkat dagu (head thilt chin lift Manuever), cara lain untuk membuka jalan nafas adalah dorong rahang bawah (jaw thrust Manuever). Cara ini hanya boleh dilakukan oleh penolong seorang petugas kesehatan dan korban ada riwayat trauma kepala atau leher.
Dengan cepat bersihkan muntahan atau benda asing yang nampak ada dalam mulut.
○head thilt chin lift Manuever
Posisikan telapak tangan pada dahi smabil mendorong dahi kebelakang, pada waktu yang bersamaan, ujung jari tangan yang lain mengangkat dagu. Ibu jari dan telunjuk harus bebas agar dapat digunakan menutup hidung jika perlu memberikan nafas buatan. 
○jaw thrust Manuever
Posisikan setiap tangan pada sisi kanan dan kiri kepala pasien, dengan siku bersandar pada permukaan tempat pasien terlentang dan pegang sudut rahang bawah dan angkat dengan kedua tangan akan mendorong rahang bawah depan.

Gbr. Head thilt-chin lift manuever dan jaw thrust manuever
BREATHING
Sambil mempertahankan jalan nafas terbuka, dinilai pernafasan dengan mendekatkan telinga ke hidung dan mulut pasien.
Look, Feel and Listen ada tidaknya udara keluar masuk :
- lihat pergerakan naik turunnya dada
- dengar suara nafas pada mulut pasien
- rasakan hembusan nafas dipipi

Gbr. Menilai Pernafasan

Penilaian ini dilakukan tidak boleh lebih dari 10 detik.
Bila pernafasan memadai:
Posisikan pasien pada posisi mantap (recovery position) bila tidak ada riwayat trauma leher, pantau terus pasien dan mencari bantuan. Bila tidak ada pernafasan cari bantuan (aktifkan LGD/EMS), pasien diposisikan telentang, buka jalan nafas dan bersihkan sumbatan yang terlihat didalam mulut pasien dan berikan bantuan pernafasan buatan.

○ Posisi sisi mantap (recovery position)
Pada pasien yang tidak sadar, bernafas spontan dan teraba sirkulasi spontan, maka pertolongan ditujukan untuk mempertahankan jalan nafas bebas dari sumbatan lidah dan mengurangi terjadinya aspirasi isi lambung. Oleh karena itu pasien diatur pada posisi mantap, yaitu:
- lengan yang dekat penolong diluruskan kearah kepala.
- lengan yang satunya menyilang dada, kemudian tekankan tangan tersebut ke pipinya.
- tarik tungkai hingga tubuh pasien terguling kearah penolong, baringkan miring dengan tungkai atas membentuk sudut dan menahan tubuh dengan stabil agar tidak menelungkup.
- periksa pernafasan terus menerus.

Gbr. Posisi Sisi Mantap (Recovery Position)

○ pernafasan buatan
Bantuan ini harus diberikan pada semua pasien yang tidak bernafas atau pernafasannya tidak memadai. Nafas buatan dimulai dengan 2 kali nafas pelan, efektif (dalam 1 detik), kemudian dilanjutkan nafas buatan 12x/menit.
Beberapa cara memberikan bantuan pernafasan buatan adalah:
- pernafasan buatan mulut ke mulut
- pernafasan buatan mulut ke hidung
- pernafasan buatan mulut ke sungkup
- pernafasan buatan dengan kantung nafas buatan (bag mask device)

1. Pernafasan Buatan Mulut ke Mulut
Nafas buatan mulut ke mulut adalah cara yang paling sederhana, cepat meskipun menggunakan udara ekhalasi penolong dengan kadar oksigen sekitar 16% saja.
caranya :
- pertahankan head thilt chin lift
- jepit hidung dengan ibu jari dan telunjuk dengan tangan yang melakukan head thilt
- buka sedikit mulut pasien
- tarik nafas panjang dan tempelkan rapat bibir penolong melingkari mulut pasien, kemudian tiupkan lambat, setiap tiupan selama 2 detik dan pastikan sampai daa terangkat.
- tetap pertahankan head thilt chin lift, lepaskan mulut penolong dari mulut pasien, lihat apakah dada pasien turun waktu ekshalasi.

Gbr. Pernafasan buatan mulut ke mulut

2. Pernafasan Buatan Mulut Ke Hidung
Nafas buatan ini dilakukan bila pernafasan mulut ke mulut sulit misalkan karena trismus, caranya adalah katupkan mulut pasien disertai chin lift, kemudian tiupkan udara seperti pernafasan mulut ke mulut. Buka mulut pasa waktu ekshalasi.



3. Pernafasan Buatan Mulut Ke Sungkup
Penolong meniupkan udara melalui sungkup yang diletakan diatas dan melingkupi mulut serta hidung pasien. Sungkup ini terbuat dari plastik transparan sehingga muntahan dan warna bibir pasien dapat terlihat.
caranya :
- letakkan pasien pada posisi terlentang
- letakkan sungkup pada muka pasien dan dipegang dengan kedua ibu jari
- lakukan head thilt chin lift/jaw thrust, tekan sungkup kemuka pasien agar rapat kemudian tiup melalui lubang sungkup sampai dada terangkat
- hentikan tiupan dan amati turunnya dada.

Gbr. Pernafasan buatan mulut kesungkup


4. Pernafasan Dengan kantung Nafas Buatan
Alat kantung nafas terdiri dari kantung dan katup satu arah yang menempel pada sungkup muka. Volume dari kantung nafas ini 1600 ml. Alat ini bisa digunakan untuk memberikan nafas buatan dengan atau disambungkan dengan sumber oksigen. Bila disambungkan ke oksigen dengan kecepatan aliran 12 liter per menit (ini dapat memberikan konsentrasi oksigen yang diinspirasi sebesar 7,40%), maka penolong hanya memompa sebesar 400-600 ml (6-7ml/kg) dalam 1-2 detik ke pasien, bila tanpa oksigen dipompakan 10 ml/kg berat badan pasien dalam 2 detik. Caranya dengan menempatkan tangan untuk membuka jalan nafas dan meletakkan sungkup menutupi muka dengan teknik E-C Clamp, yaitu ibu jari dan jari telunjuk penolong membentuk huruf "C" dan mempertahankan sungkup dimuka pasien. Jari-jari ketiga, empat dan lima membentuk huruf "E" dengan meletakkannya dibawah rahang bawah untuk mengangkat dagu dan rahang bawah, tindakan ini akan mengangkat lidah dari belakang faring dan membuka jalan nafas.
a. Bila dengan 2 penolong, satu penolong pada posisi diatas kepala pasien menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan kanan untuk mencegah agar tidak terjadi kebocoran disekitar sungkup dan mulut, jari-jari yang lain mengangkat rahang bawah dengan mengekstensikan kepala sembari melihat pergerakan dada. Penolong kedua secara perlahan (2 detik) memompa kantung sampai dada terangkat.
b. Bila 1 penolong, dengan ibu jari dan jari telunjuk melingkari pinggir sungkup dan jari-jari lainnya mengangkat rahang bawah, tangan yang lain memompa kantung nafas sembari melihat dada terangkat.

Gbr. Dua penolong

Gbr. Satu penolong

ANJURAN UNTUK PERNAFASAN BUATAN
Pada awal pemberian pernafasan buatan, berikan 2 kali perlahan (2 detik setiap kali tiupan) dan biarkan ekshalasi sempurna diantara nafas/tiupan. Bila hanya perlu nafas buatan saja, diberikan dengan kecepatan 10-12 nafas permenit, tetapi bila disertai kompresi jantung luar maka diberikan 30 kali kompresi dan 2 nafas per ventilasi untuk 1 atau 2 penolong sampai pasien dilakukan Intubasi trakhea.

CIRCULATION (SIRKULASI)
Henti jantung mengakibatkan tidak adanya tanda-tanda sirkulasi, artinya tidak ada nadi. Pada praktiknya penilaian tanda ada tidaknya sirkulasi oleh penolong adalah:
1. Setelah memberikan 2 kali nafas ke pasien yang tidak sadar, dan tidak bernafas, lihat apakah ada tanda-tanda sirkulasi yakni ada nafas, batuk dan gerakan-gerakan tubuh.
2. Bila pasien tidak bernafas, batuk atau melakukan gerakan, lakukan pemeriksaan nadi karotis.
3. Penilaian ini tidak boleh lebih dari 10 detik.
Catatan : penilaian sirkulasi ini harus dilakukan oleh petugas kesehatan, sedangkan untuk orang awam terlatih (petugas pemadam kebakaran, satpam dll) tidak dianjurkan, pada kelompok orang-orang ini bila mendapatkan poin 1 diatas, segera melakukan kompresi dada.

● Menilai nadi karotis, caranya :
Pertahankan posisi head thilt dengan satu tangan penolong dan tangan lainnya memegang leher pasien dan mencari trakhea dengan 2-3 jari sampai meraba batas trakhea dan otot-otot samping leher tempat lokasi nadi karotis bisa diraba. Dengan tekanan lembut nadi karotis akan teraba, apabila nadi karotis tidak teraba segera lakukan kompresi dada.

Gbr. Letak nadi karotis

●Kompresi dada
Teknik kompresi dada adalah memberikan tekanan pada setengah bawah tulang dada (sternum) berulang-berulang dan berirama.

● menentukan lokasi kompresi dan posisi tangan
- tentukan lokasi kompresi setengah bagian bawah tulang dada dengan telunjuk dan jari tengah menyusur batas bawah iga sampai titik temu dengan sternum
- posisikan tumit tangan satunya diatas sternum tepat disamping telunjuk tersebut. Ini adalah titik tumpu kompresi
- tumit tangan satunya diletakan diatas tangan yang sudah berada tepat di titik kompresi
- jari-jari kedua tangan dirapatkan dan diangkat agar tidak ikut menekan.

Gbr. Lokasi Kompresi dan posisi tangan
● teknik kompresi dada
- penolong mengambil posisi tegak lurus diatas dada pasien dengan siku lengan lurus, menekan sternum sedalam 4-5cm
- ulangi gerakan kompresi, lepas, kompresi, lepas, sekitar 100 kali permenit, rasio kompresi dan melepas 1:1
- setiap selesai 30 kali kompresi dada, buka jalan nafas dan berikan 2 nafas buatan efektif, kemudian kompresi dada lagi 30 kali dan seterusnya
- setiap selesai 5 siklus atau setiap 2 menit, dilakukan penilaian tanda-tanda pernafasan dan sirkulasi.

● penilaian pulihnya sirkulasi
- Setelah 5 siklus kompresi dan ventilasi (rasio 30:2), dinilai kembali keadaan pasien dengan memeriksa tanda-tanda sirkulasi dan dilakukan tidak lebih dari 10 detik
- Bila tanda-tanda sirkulasi tidak ada, teruskan kompresi dada dan ventilasi
- Bila ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan penilaian terhadap pernafasan, yaitu :
  ○ Bila nafas ada, posisikan pasien pada posisi mantap (recovery position) dan pantau pernafasan dan sirkulasi
  ○ Bila nafas tidak ada, berikan nafas buatan 12 kali permenit dan pantau sirkulasi.

● Resusitasi dengan 2 penolong
Apabila ada 2 penolong, ada beberapa hal yg perlu diperhatikan :
1. Jika penolong pertama sedang memberikan nafas buatan, penolong kedua yang baru datang mengambil posisi kompresi dada yang benar. Penolong ini mengambil alih kompresi dada setelah penolong pertama selesai memberikan 2 nafas buatan. Posisi kedua penolong berseberangan dari pasien.
2. Penolong kompresi dada melakukannya dengan hitungan suara yang keras
3. Jika penolong ingin berganti tempat, penolong kompresi memberi aba-aba. Pindah tempat dilakukan akhir kompresi dada ke 30, segera pindah ke posisi nafas buatan dan memberi 2 nafas buatan penolong yang semula memberi nafas buatan pindah ke posisi kompresi dada dan melakukan kompresi segera setelah nafas buatan.

● Komplikasi BLS
1. Regurgitasi, aspirasi
2. Fraktur sternum, costae
3. Pneumothoraks, hemotoraks, kontusio paru
4. Laserasi hati, limpa

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) PASA ANAK
SEBAB-SEBAB  HENTI JANTUNG PADA ANAK
1. Kegawatan nafas yang tidak dikelola dengan benar
2. Akibat penyakit atau trauma
3. Masalah gangguan irama jantung primer jarang terutama pada anak umur kurang dari 8 tahun.

TANDA-TANDA HENTI JANTUNG
1. Tidak sadar
2. Pernafasan tidak memadai
3. Tidak ada tanda-tanda sirkulasi (tidak ada nafas, tidak ada batuk, tidak ada gerakan) termasuk tidak asa nadi.

TAHAPAN-TAHAPAN BHD
Tahapan BHD pada anak dilakukan secara berurutan dimulai dengan menilai kesadaran, mengaktifkan LGD/EMS dan tindakan ABC (airway, breathing, circulation).
BHD pada anak umur 8 tahun keatas sama dengan dewasa.

1. Airway (jalan nafas)

● posisi pasien
Bila anak tidak sadar, posisikan anak sebagai satu unit ke posisi terlentang pada alas yang datar dan keras, sehingga bila diperlukan tindakan kompresi dada bisa segera dilakukan.

● buka jalan nafas
Penyebab paling sering sumbatan jalan nafas pada anak yang tidak sadar adalah lidah. Untuk itu segera dilakukan pembukaan jalan nafas dengan cara head thilt chin lift manuever. Apabila penolong adalah petugas kesehatan dan korban ada riwayat trauma kepala atau leher dilakukan jaw thrust manuever.

a. Head thilt chin lift manuever
Letakkan satu tangan diatas kepala anak dan ekstensikan kepala ke belakang. Pada saat yang sama jari-jari tangan yang lain memegang rahang bawah anak dekat dagu dan angkat dagu.

Gbr. Head thilt chin lift manuever

b. Jaw thrust manuever
Untuk membuka jalan nafas digunakan cara angkat rahang bawah, yaitu: tempatkan dua atau tiga jari dibawah kedua sisi rahang bawah yaitu pada sudutnya dan angkat rahang bawah ke atas dan keluar.

Gbr. Jaw thrust manuever
BREATHING
● penilaian pernafasan
Pertahankan jalan nafas terbuka dan melihat tanda-tanda pernafasan anak.
Melihat naik dan turunnya dada dan perut, dengarkan pada hidung dan mulut anak adanya udara ekshalasi dan rasakan gerakan udara yang keluar dari mulut anak dengan pipi penolong. Tindakan ini tidak lebih dari 10 detik.
Apabila anak bernafas spontan dan tidak ada riwayat trauma, posisikan anak ke posisi sisi mantap untuk mempertahankan jalan nafas terbuka.
Gbr. Posisi sisi mantap (Recovery Position)
● pernafasan buatan
Apabila pernafasan tidak ada atau tidak mmemadai, tetap jaga jalan nafas terbuka dan berikan dua nafas buatan pelan (1 detik per nafas).
Pemberian nafas buatan dapat dilakukan dengan :
- pernafasan buatan dari mulut ke mulut dan hidung
- pernafasan buatan dari mulut ke mulut
- pernafasan buatan dengan kantong alat nafas.
1. pernafasan buatan dari mulut ke mulut dan hidung
Bila anak berumur kurang dari 1 tahun, posisikan mulut penolong menutupi mulut dan hidung anak sampai tidak ada kebocoran. 
Tiup kedalam mulut dan hidung bayi dan usahakan dada terangkat pada setiap tiupan.
2. Pernafasan buatan dari mulut ke mulut
Bila anak berumur 1 sampai 8 tahun dilakukan pernafasan buatan dari mulut ke mulut.
Dengam menjaga jalan nafas terbuka, tutup hidung anak dengan ibu jari dan telunjuk penolong, kemudian mulut penolong menutupi mulut anak dan berikan dua kali bantuan nafas sampai terlihat dada terangkat pada setiap bantuan nafas.
3. Pernafasan buatan dengan alat kantong nafas
Untuk memberikan ventilasi dengan kantong nafas harus dipilih ukuran kantong dan sungkup yang sesuai. Sungkup harus dapat menutupi hidung dan mulut anak tanpa menutupi mata dan pipi.
Caranya dengan menempatkan tangan untuk membuka jalan nafas dan meletakkan sungkup menutupi muka anak dengan teknik E-C Clamp yaitu ibu jari dan jari telunjuk penolong membentuk huruf "C" dan mempertahankan sungkup dimuka anak. Jari-jari ketiga, empat dan lima membentuk huruf "E" dengan meletakkannya dibawah rahang bawah untuk mengangkat dagu dan rahang bawah : tindakan ini akan mengangkat lidah dari belakang faring dan membuka jalan nafas.  
Gbr. Pernafasan buatan

CIRCULATION (SIRKULASI)

● menilai tanda-tanda adanya sirkulasi
1. Setelah memberikan 2 nafas buatan efektif pada pasien tidak sadar, tidak bernafas.
2. Menilai tanda-tanda sirkulasi yaitu dengan mendekatkan telinga pada mulut pasien sembari melihat, mendengar dan merasakan adanya pernafasan normal atau batuk dan tanda-tanda gerakan. Periksa nadi pada pembuluh darah brakhialis (bayi) dan karotis (anak), bila tidak ada segera lakukan kompresi dada.
3. Penilaian ini tidak lebih sari 10 detik.
Gbr. Penilaian tanda-tanda sirkulasi 

 ● kompresi dada pada anak umur 1-8 tahun
1. Letakkan tumit satu tangan pada setengan bawah sternum, hindarkan jari-jari pada tulang iga anak.
2. Menekan sternum sedalam 2,5-4 cm kemudian lepaskan dengan rasio menekan, melepas adalah, dengan kecepatan 100 kali permenit.
3. Setelah 30 kali kompresi, buka jalan nafas dan berikan 2 kali nafas buatan sampai dada terangkat untuk 1 penolong.
4. Kompresi dan nafas buatan dengan rasio 15:2 (2 penolong).
Gbr. Kompresi dada pada anak 1-8 tahun

● kompresi dada pada bayi (umur kurang dari 1 tahun)
1. Letakkan 2 jari satu tangan pada setengah bawah sternum; lebar 1 jari berada dibawah garis intermammari.
2. Menekan sternum sedalam 1,25 - 2,5 cm kemudian angkat tanpa melepas jari dari sternum, dengan kecepatan 100 kali permenit.
3. Setelah 30 kali kompresi, buka jalan nafas dan berikan 2 kali nafas buatan sampai dada terangkat untuk 1 penolong.
4. Kompresi dan nafas buatan dengan rasio 15:2 untuk 2 penolong.
Gbr. Kompresi dada pada anak usia kurang dari 1 tahun

Kesimpulan :
1. Henti jantung mengakibatkan hal yang buruk pada bayi dan anak.
Oleh karena itulah petugas kesehatan harus mampu mengatasi ini.
2. Henti jantung paru pada bayi dan anak biasanya merupakan kegagalan progresif dari sistem pernafasan.
3. Idealnya RJP pada anak dilakukan secara simultan dengan mengaktifkan sistem layanan gawat darurat (EMS=Emergency Medical System).
4. Jika penolong tunggal menemukan anak tidam sadar lakukan RJP selama 2 menit lalu kontak telepon dengan UGD Rumah sakit setempat.
5. Buka jalan nafas dengan manuever head thilt chin lift. Berikan pernafasan buatan dari mulut ke mulut dan hidung dan mulut ke mulut adalah teknik yang dapat diterapkan ke bayi.
6. Penolong awam dna petugas kesehatan sebaiknya memakai alat pelindung untuk memberi nafas buatan pada pasien yang tidak sadar.
7. Petugas kesehatan sebaiknya melakukan cek nadi sambil melihat tanda-tanda sirkulasi (bernafas, batuk, pergerakan).
8. Rasio 30 kompresi dan 2 ventilasi dianjurkan baik untuk 1 penolong, 15 kompresi dan 2 ventilasi untuk 2 penolong. Kecepatan kompresi untuk 1 atau 2 penolong paling sedikit 100 kali per menit pada bayi dan 100 kompresi per menit pada anak.

Urut - urutan bantuan hidup dasar pada bayi dan anak:
1. Nilai kesadaran.
2. Jika pasien tidak sadar buka jalan nafas dengan manuever head thilt chin lift atau jaw thrust dan menilai pernafasan (lihat, dengar dan raba).
3. Jika pasien tidak bernafas berikan nafas buatan.
4. Cek tanda sirkulasi (untuk pelayan kesehatan harap memeriksa nadi, pernafasan, batuk dan pergerakan).
5. Jika tidak ada tanda sirkulasi lakukan kompresi paling sedikit 100 kali per menit pada bayi dan 100 kali per menit pada anak dengan rasio 30:2. Jika anak berusia 1-8 tahun pada kondisi pra Rumah Sakit (pre hospital setting) gunakan defibrillator otomatis (DEO) secepatnya. Gunakan lembaran elektroda pada anak 1-8 tahun jika tersedia dan lembaran elektroda dewasa untuk anak usia diatas 8 tahun.
6. Jika telah melakukan RJP selama 1 menit hubungi segera sistem LGD/EMS dari Rumah Sakit terdekat.

Pelatihan BTCLS

Pelatihan BTCLS


Basic Cardiovascular Life Support (BCLS) dan Basic Trauma Life Support (BTLS) atau sering dikenal dengan BTCLS adalah pelatihan penanganan kegawatdaruratan  trauma dan kardiovaskular yang ditujukan bagi para perawat atau mahasiswa keperawatan tingkat akhir. Pelatihan BTCLS bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa keperawatan dan perawat agar mampu menangani pasien-pasien dengan kasus-kasus trauma dan kardiovaskular, sehingga dapat menekan tingkat kecacatan maupun kematian akibat kasus trauma dan jantung.
Pelatihan BTCLS Pro Emergency diselenggarakan selama lima hari, 3 hari BTLS dan 2 hari BCLS. Pelatihan BTLS memberikan pembekalan tentang bagaimana menangani pasien dengan kasus trauma melalui pendekatan Initial Assessment and Management, yang mencakup Primary Survey dan Secondary Survey, sehingga penatalaksanaan pasien dapat dilakukan secara cepat dan tepat berdasarkan prioritas masalah. Selain materi tersebut, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai Triage; Teknik Ekstrikasi, Pemindahan, Pengangkatan dan Transportasi Pasien; serta Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu. Pada sesi praktik, peserta akan mendapat giliran untuk masuk dalam 4 stase skill, diantaranya Airway and Breathing Management; Initial Assessment and Management; Muskuloskeletal; Lifting, Moving, Extrication, Stabilization and Transportation. 
Sementara itu, Pelatihan BCLS memberikan pembekalan mengenai penanganan pada pasien yang mengalami kegawatdaruratan jantung. Dengan mengikuti BCLS diharapkan peserta mampu mengidentifikasi tanda-tanda henti napas dan atau henti jantung serta penatalaksanaanya, mengetahui gambaran irama yang mengancam nyawa serta penatalaksanaannya, dan mengetahui penanganan pasien dengan Sindrom Koroner Akut. Peserta akan mendapatkan materi Anatomi dan Fisiologi Jantung, Basic Life Support (BLS) berdasarkan pedoman American Heart Association (AHA) terbaru tahun 2015 dan penanganan pasien dengan Sindrom Koroner Akut. Peserta juga mendapatkan materi pengayaan mengenai cara membaca gambaran elektrokardiogram, yang merupakan salah satu kelebihan Pelatihan BCLS di Pro Emergency. Pada sesi praktik, ada 3 skill yang harus diikuti oleh peserta, yaitu BLS (Resusitasi Jantung Paru pada dewasa & anak serta choking management), Elektrokardiogram dan Electrical. Setelah sesi kuliah, diskusi dan praktik, peserta akan melakukan drill exercise. Seluruh peserta akan menangani korban kegawatdaruratan pada kejadian masal. 
Rangkaian pelatihan diawali dengan pre test baik pada BCLS maupun BTLS yang bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terkait kegawatdaruratan trauma dan kardiovaskular, serta untuk memberikan gambaran kepada peserta tentang konten dari pelatihan BTCLS. Ujian evaluasi baik teori maupun praktik dilakukan pada hari terakhir BCLS dan BTLS.
BTCLS Pro Emergency mendapatkan total 3 sertifikat yang terpisah plus 1 ID card BTCLS. 2 sertifikat dengan akreditasi PPNI pusat senilai 2 skp untuk BCLS dan 3 skp untuk BTLS, serta 1 sertifikat dari BPPSDM Kemenkes RI senilai 1 skp. Total skp Pelatihan BTCLS Pro Emergency adalah 6 skp.

ALASAN PENTINGNYA PELATIHAN BTCLS BAGI PERAWAT

TUJUH  ALASAN PENTINGNYA PELATIHAN BTCLS BAGI PERAWAT 

 

 

BTCLS merupakan pelatihan yang paling dicari di Indonesia khususnya para perawat. Mengapa demikian? Simak alasannya berikut ini!
1.    Bekal perawat dalam Penanganan Pasien Gawat Darurat Trauma dan Kardiovaskular
Membekali perawat untuk dapat memahami dan mampu melakukan  penanganan pasien dengan kegawatdaruratan trauma dan kardiovaskular baik di area pra rumah sakit, intra rumah sakit, klinik maupun puskesmas.
2.    Fresh Graduate: Salah Satu Modal  Melamar Kerja Di RS Idaman
Bagi mahasiswa tingkat akhir ataupun fresh graduate, BTCLS menjadi bekal persiapan sebelum bekerja di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Calon perawat yang memiliki sertifikasi BTCLS akan lebih diprioritaskan oleh rumah sakit yang sedang membuka lowongan.
3.   BTCLS Menjadi Salah Satu Syarat Untuk Persiapan Akreditasi RS
BTCLS menjadi salah satu pelatihan yang disyaratkan dalam daftar kebutuhan pelatihan untuk persiapan akreditasi rumah sakit.
4.   Pengumpulan SKP untuk STR
Total nilai Satuan Kredit Profesi (SKP) yang didapatkan dari pelatihan BTCLS cukup dapat mendongkrak untuk keperluan perpanjangan Surat Tanda Registrasi (STR) perawat. SKP pada pelatihan BTCLS yang berlaku untuk perpanjangan STR adalah SKP yang terakreditasi oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Nilai SKP yang didapat tergantung dari provider penyelenggara dan juga jenis pelatihannya, apakah hanya BCLS, BTLS, ataupun BTCLS. Untuk itu, sebelum Anda mengikuti pelatihan, sebaiknya juga dipastikan terlebih dahulu berapa nilai SKP yang akan diperoleh.
5.    Pendaftaran Tenaga Kerja Haji Indonesia (TKHI)


Bagi Anda yang ingin mengikuti recruitment TKHI, maka sertifikat BTCLS ini menjadi salah satu syarat berkas yang harus dilengkapi khususnya bagi perawat.
6.   Institusi Pendidikan: Meningkatkan Nilai Jual Alumnus Di Pasar Kerja
Ilmu praktis sangat penting bagi para mahasiswa terutama mahasiswa tingkat akhir. Karena tidak semua bisa didapatkan mahasiswa di bangku kuliah. BTCLS merupakan sekumpulan ilmu dan praktik yang sangat aplikatif untuk diterapkan baik area pra rumah sakit, intra rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Dengan mengikuti BTCLS, maka mahasiswa keperawatan tingkat akhir akan lebih siap untuk bekerja dalam memberikan pelayanan kesehatan. Hal tersebut tentunya dapat memberi citra yang baik bagi institusi pendidikan yang memberikan pelatihan yang aplikatif bagi para mahasiswa didiknya.
7.    Bekal dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Masyarakat Ekonomi ASEAN turut mempengaruhi wajah keperawatan Indonesia. Perawat merupakan salah satu daftar prioritas yang akan dilibatkan dalam pasar MEA.  Pintu gerbang telah terbuka lebar bagi perawat yang ingin bekerja di luar negeri begitupun sebaliknya, Indonesia harus bersiap-siap akan kedatangan perawat-perawat dari luar negeri. Perawat Indonesia dituntut untuk dapat bersaing dengan perawat-perawat dari luar negeri. Pelatihan BTCLS merupakan salah satu media untuk meningkatkan kompetensi perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan di era MEA.